
Deep Learning dalam Pendidikan: Inovasi Pembelajaran Baru dari Mendikdasmen

Kementerian
Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) bersama Komisi X DPR RI menggelar
Rapat Kerja (Raker) guna membahas strategi peningkatan kualitas pendidikan di
Indonesia. Salah satu poin utama yang dibahas adalah penerapan
pendekatan pembelajaran Deep Learning, yang diyakini dapat memberikan
pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswa.
Apa itu Deep Learning?
Pendekatan Deep Learning yang diusulkan oleh Mendikdasmen berbeda dengan istilah yang umum digunakan dalam ranah kecerdasan buatan (AI). Dalam konteks pendidikan, Deep Learning menekankan pemahaman konsep secara mendalam, penguasaan kompetensi, serta keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran.3 Elemen utama dari deep learning
Pendekatan Deep Learning dalam pendidikan yang diusulkan oleh Mendikdasmen terdiri dari tiga elemen utama, yaitu Meaningful Learning, Mindful Learning, dan Joyful Learning. Masing-masing elemen ini memiliki peran penting dalam membangun pengalaman belajar yang lebih mendalam dan bermakna bagi siswa.
1. Meaningful
Learning (Pembelajaran Bermakna):
Meaningful Learning menekankan bahwa proses belajar harus memiliki makna dan keterkaitan dengan kehidupan nyata siswa. Dalam pendekatan ini, siswa tidak hanya menghafal informasi, tetapi juga memahami konsep yang dipelajari dan dapat menghubungkannya dengan situasi sehari-hari.
🔹 Ciri-ciri Meaningful Learning:
- Materi yang diajarkan memiliki relevansi dengan pengalaman dan lingkungan siswa.
- Siswa mampu mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.
- Pembelajaran berbasis proyek dan studi kasus sering digunakan untuk memperdalam pemahaman konsep.
- Mendorong siswa untuk berpikir kritis dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.
Contoh:
Saat belajar tentang ekosistem, siswa tidak hanya menghafal jenis-jenis rantai
makanan, tetapi juga menganalisis dampak deforestasi terhadap keseimbangan
ekosistem dan mencari solusi untuk menjaga lingkungan.
2. Mindful
Learning (Pembelajaran Sadar dan Aktif)
Mindful Learning
menekankan kesadaran penuh dalam proses belajar. Siswa didorong untuk secara
aktif terlibat dalam pembelajaran, berpikir reflektif, serta memiliki niat dan
motivasi internal untuk mengembangkan pemahaman serta keterampilan mereka.
🔹 Ciri-ciri Mindful
Learning:
- Siswa menjadi agen aktif dalam proses belajar, bukan sekadar penerima informasi pasif.
- Mendorong siswa untuk berpikir kritis, bertanya, dan mencari jawaban sendiri.
- Menggunakan pendekatan reflektif agar siswa lebih memahami cara mereka belajar dan bagaimana menerapkan strategi yang efektif.
- Menumbuhkan rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga siswa tidak hanya belajar untuk ujian, tetapi juga untuk pengembangan diri.
Contoh:
Dalam pembelajaran sejarah, siswa tidak hanya membaca buku teks, tetapi juga
melakukan riset, berdiskusi, dan membuat presentasi tentang peristiwa sejarah
dari berbagai sudut pandang.
3. Joyful
Learning (Pembelajaran yang Menyenangkan dan Memotivasi)
Joyful Learning menekankan bahwa pembelajaran harus menjadi pengalaman yang menyenangkan dan menggugah minat siswa. Dengan suasana belajar yang positif, siswa lebih termotivasi untuk terus mengeksplorasi pengetahuan dan meningkatkan pemahaman mereka.
🔹 Ciri-ciri Joyful Learning:
- Pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), permainan (gamifikasi), dan pendekatan kreatif.
- Suasana kelas yang interaktif dan kolaboratif.
- Siswa merasa nyaman untuk bereksplorasi, mengajukan pertanyaan, dan mencoba hal baru tanpa takut salah.
- Guru berperan sebagai fasilitator yang mendukung dan membimbing siswa sesuai dengan minat dan bakat mereka.
Contoh:
Dalam pelajaran matematika, guru menggunakan permainan dan simulasi interaktif
untuk membantu siswa memahami konsep aljabar dengan cara yang menyenangkan.
Manfaat Penerapan Deep Learning dalam Pendidikan di
Indonesia
Penerapan Deep Learning dalam sistem pendidikan Indonesia
tidak hanya berfokus pada peningkatan pemahaman akademik, tetapi juga pada
pengembangan keterampilan yang esensial untuk menghadapi tantangan abad ke-21.
Menurut laporan World Economic Forum (WEF), pendekatan ini
sangat relevan dengan konsep 21st Century Skills, yang terdiri dari tiga aspek
utama:
Foundational Literacies – Kemampuan dasar seperti literasi,
numerasi, literasi sains, teknologi, dan keuangan yang menjadi fondasi bagi
siswa dalam memahami dunia.
Competencies –
Keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi yang
diperlukan untuk menghadapi tantangan dan menyelesaikan masalah secara efektif.
Character
Qualities – Nilai-nilai seperti keingintahuan, inisiatif, ketahanan, dan
kepemimpinan yang membantu siswa menjadi individu yang adaptif dan inovatif.
Dengan mengadopsi pendekatan Deep Learning, siswa diharapkan
dapat lebih memahami konsep secara mendalam, menjadi pembelajar aktif, serta
memiliki motivasi tinggi dalam menjalani proses pendidikan. Pendekatan ini juga memungkinkan guru untuk
berperan sebagai fasilitator yang mendorong eksplorasi dan pemecahan masalah,
bukan sekadar penyampai materi.
Jika diterapkan
secara optimal, Deep Learning dapat menjadi kunci dalam menciptakan generasi
yang lebih siap menghadapi masa depan, baik dalam dunia akademik maupun di
lingkungan kerja yang semakin dinamis.
Share It On: