Roti: Warisan Budaya Kuliner yang Tak Bernama Penemu
Pendahuluan
Roti menduduki posisi sentral dalam sejarah makanan manusia dari remah-rekah adonan sederhana di pinggir api hingga jajaran loaves massal di rak supermarket. Tak seperti teknologi yang mudah dilacak siapa penemunya, roti lebih merupakan hasil evolusi panjang budaya kuliner manusia: perkembangan yang mencakup penemuan teknologi penggilingan, fermentasi ragi liar, hingga pembakaran oven skala besar. Artikel ini membahas sejarah roti secara rinci dari sisi arkeologi dan budaya, menggali bagaimana manusia awal menciptakan dan memproduksi roti, serta dampaknya terhadap peradaban.
Asal-Usul dan Era Prasejarah
Penelitian arkeologis menunjukkan bahwa manusia prasejarah telah membuat makanan “seperti roti” sejak jauh sebelum pertanian formal. Sebuah studi di situs Shubayqa 1 di timur laut Yordania menunjukkan bukti produk berbasis sereal wild-grasses dan umbi-umbian yang dipanggang sekitar 14.400 tahun yang lalu jauh sebelum penanaman gandum secara domestik.
Dengan munculnya pertanian pada sekitar 10.000 SM di wilayah Fertile Crescent, manusia mulai mendomestikasi gandum dan barley, menjadikan sereal sebagai sumber pangan utama dan dari situ roti mulai menjadi makanan pokok.
Roti tidak ditemukan sebagai karya satu orang atau satu masyarakat saja melainkan merupakan akumulasi inovasi budaya dalam penggilingan, fermentasi, dan pembakaran. Akibatnya, tidak ada “penemu roti” tunggal yang bisa dicatat seperti halnya penemu suatu mesin.
Inovasi dalam Produksi dan Budaya Roti
Penggilingan dan Oven Awal
Sebelum teknologi modern, manusia menggiling biji-bijian menggunakan batu dan kemudian memanggang adonan di permukaan batu atau atas api terbuka. Seiring waktu, oven batu yang dibentuk khusus muncul dan memberi kendali pencahayaan panas yang lebih baik.
Di Mesir kuno sekitar 3.000 SM, manusia mulai menggunakan ragi liar dari fermentasi bir atau adonan yang didiamkan sehingga mengembang ini menaikkan status roti dari flatbread padat menjadi roti berongga yang lebih ringan.
Roti dalam Peradaban Klasik
Kehadiran roti naik ke tingkat budaya penting di peradaban seperti Mesir, Yunani, dan Romawi. Di Roma misalnya, roti bukan hanya makanan penggilingan air dan produksi massal memungkinkan sebuah bakery memproduksi ribuan roti per hari.
Perbedaan kualitas roti juga menjadi simbol status sosial: roti putih halus untuk kaum kaya, roti kasar hasil gandum penuh untuk kelas pekerja.
Dampak Terhadap Peradaban & Ekonomi
Roti memungkinkan timbunan pangan dan mempermudah pengaturan masyarakat sesuatu yang penting untuk munculnya kelas pekerja dan penduduk kota. Sebagai kata suatu artikel: “Bread allowed for the building of surpluses and developing of [social] classes.”
Dalam konteks ekonomi, teknologi‐roti (seperti penggilingan besar, oven massal) menjadi bagian dari industrialisasi pangan pada abad ke-19 dan ke-20. Kemudian muncul proses seperti “Chorleywood bread process” di Inggris pada 1961 yang mempercepat produksi roti secara masif melalui pengadukan intensif dan fermentasi cepat.
Kesimpulan
Karena roti adalah produk panjang evolusi budaya manusia, bukan satu penemuan tunggal, maka kita tidak bisa menunjuk satu “penemu roti”. Namun perjalanan roti dari adonan sederhana di pinggir api hingga industri bakeri modern mencerminkan transformasi besar dalam makanan, teknologi, dan masyarakat manusia. Roti tetap menjadi lambang dari inovasi bersama, adaptasi teknologi, dan keseharian manusia.
Daftar Referensi
-
Arranz-Otaegui, Amaia; Gonzalez Carretero, Lara; Ramsey, Monica N.; Fuller, Dorian Q.; Richter, Tobias. “Archaeobotanical evidence reveals the origins of bread 14,400 years ago in northeastern Jordan.” PNAS / PMC.
-
“History of bread.” Wikipedia.
-
“Who Invented Bread?” – LiveScience.
-
“A Definitive Timeline of Bread.” The Spruce Eats.
-
“The Origin of Bread.” – Lyon Bakery blog.
-
“The History of Bread-Making, and the Sorry State of Modern Supermarket Bread.” SmartBreadMaker.com.
Share It On: